LPG Subsidi Rasa Non-Subsidi, Warga Kapuas Hulu Mengeluh Harga Selangit
![]() |
| Ket. Gambar Ilustrasi (D74). "Kami mengantre berjam-jam, tetapi harga yang dibayar sekitar Rp27.000 per tabung." – Linda Wati |
Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan tujuan pemerintah memberikan subsidi energi untuk membantu masyarakat kecil.
Linda Wati atau Bi Wati, warga Kedamin, mengaku masyarakat sering harus mengantre lama di pangkalan, namun tetap membeli LPG dengan harga yang cukup tinggi.
"Kami mengantre berjam-jam, tetapi harga yang dibayar sekitar Rp27.000 per tabung. Ini sangat memberatkan masyarakat kecil," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Hermansyah alias Uju Her. Menurutnya, harga solar subsidi yang dibeli masyarakat jauh di atas harga yang seharusnya.
"Solar subsidi bisa mencapai Rp20.000 per liter, bahkan sampai Rp27.000 per liter jika diantar ke lokasi yang jauh," katanya.
Seorang ibu rumah tangga warga Boyan Tanjun juga merasakan hal yang sama.
"Untuk saat ini kisaran harga LPG 3 Kg Rp.28.000 pertabung, kami masyarakat kecil sudah susah ditambah susah, jika ingin mengambil keuntungan yang wajar-wajar saja", ucapnya Jumat (5/6).
Menanggapi keluhan tersebut, Divisi Humas Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (LPK RI) Kalbar, Muhammad Najib, meminta pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat penegak hukum segera mengevaluasi serta memperketat pengawasan distribusi LPG dan BBM subsidi.
"Kami menerima banyak laporan masyarakat terkait tingginya harga LPG dan solar subsidi. Jika ini terjadi secara masif, maka rantai distribusi harus dievaluasi agar subsidi tepat sasaran," tegas Najib.
Menurutnya, subsidi merupakan uang negara yang harus dinikmati masyarakat yang berhak, bukan justru membebani rakyat akibat harga yang terus melambung di lapangan.
Najib juga mendesak adanya pengawasan ketat terhadap agen, pangkalan, dan jalur distribusi lainnya untuk mencegah dugaan penyimpangan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan karena tingginya harga LPG dan solar subsidi dinilai semakin memberatkan ekonomi warga.
Sumber: Linda Wati, Hermansyah
Narasumber: M. Najib
Editor: Redaksi D74

Posting Komentar